Sosok ayam Poncin, si Keturunan Ayam Arab

pocin

Ayam poncin merupakan persilangan ayam arab jantan (asli) dengan ayam kcdu betina. Persilangan ini ditujukan untuk menjaga kelangsungan produksi dan galur murni penghasil DOC ‘Day Old Chickens). Untuk mendapat ayam poncin petelur unggul betina kampung (lokal) yang digunakan harus dipilih yang berkualiras baik. Ayam arab jantan tetap digunakan sebagai parent stock. Persilangan bisa dilakukan secara dodokan. Caranva ayam kedu betina disodorkan ke pejantan arab. Setiap pejantan mampu membuahi riga ekor betina lokal setiap harinya. DOC yang dihasilkan merupakan keturunan Fl yang dijual sebagai DOC poncin.

Ayam poncin memiliki bulu yang beragam: hitam, merah, dan keputih putihan. Dari hasil pengamatan selama 2 tahun, ternyata poncin merah merupakan ayam petelur yang terbaik. Kelebihannya: lebih tahan penyakit dibandingkan dengan jenis lainnya, produksi telurnya mencapai 75—85%, tingkat kematian DOC-nya rendah, yaitu hanya 10%, pada saat bertelur (4,5—5,5 bulan) berat badannya hanya 1,2 kg, sehingga kebutuhan pakan hanya sekitar 85 gram/ekor/hari, dan penetasan yang dilakukan, poncin menghasilkan lebih banyak DOC betina (mencapai 85%), dan ayam hasil silangan ini tidak memiliki sifat mengeram, sehingga bisa bertelur scpanjang hari. Sejumlah keunggulan ini tentu saja patut diperhitungkan sebagai ‘modal’ untuk beternak buras petelur unggul.

Keturunan ayam poncin ini hampir 90% betina, sehingga cocok sebagai ayam petelur. Kondisi ini berbeda dengan ayam arab yang hanya menurunkan 65% anak (DOC) betina. Keuntungan lainnya, kcrabang telur ayam poncin merah berwarna putih sedikit kemerahan, sehingga sangat mirip dengan telur ayam kampung. Kemiripan juga ada pada bobotnya. Kesamaannya ini menjadikan telur ayam poncin menguntungkan dari aspek pasar.

Keunggulan ayam arab dan keturunannya (poncin) akan memberi hasil yang optimal apabiladisertai dengan pemeliharaan yang intensif sejak masih DOC hingga masa bertelur. Sebagai bahan pertimbangan, ayam arab rata-rata menghasilkan 225 butir per tahun, sementara poncin merah bisa mencapai 280-290 butir per tahun. Jumlah itu lebih tinggi daripada rata-rata produksi telur ayam buras lainnya.

Kelebihan ayam buras hasil persilangan ini adalah dagingnya terasa lebih enak dibandingkan dengan ayam ras. Selain itu lebih tahan terhadap gangguan penyakit, sehingga pengeluaran biaya untuk obat-obatan relatif rendah. Sosoknya yang tidak terlalu besar, seperti ayam buras lainnya, menyehahkan beternak ayam poncin menghemat tempat (kandang) dan pakan. Dengan tingkat kecukupan protein pakan 15% saja, produksi telurnya sudah tinggi. Kecukupan protein ini baik dibandingkan dengan tingkat protein ayam buras lain yang harus mencapai 19%.

Telur ayam poncin ridak berbeda dengan telur ayam buras lainnya. Rasanya lebih gurih dibandingkan dengan telur ayam ras. Kandungan gizinya pun lebih baik dibandingkan dengan ayam ras. Itulah sebabnya telur ayam poncin sama dengan telur ayam buras yang dapat dijadikan campuran untuk jamu atau dimakan setengah matang sebagai “obat kuat”, tentu saja selain untuk dikonsumsi sebagai makanan matang.

Dengan ditemukannya strain ayam poncin ini, kelemahan beternak ayam buras menjadi tertutupi. Masalah yang selama ini dirasakan dalam beternak ayam buras adalah belum adanya bibit unggul yang setara dengan ayam ras dalam hal bertelur maupun menghasilkan daging. Memang selama ini belum banyak usaha yang dilakukan untuk menyiapkan bibit unggul. Artinya, bibit yang benar-bcnar “jagoan” dalam hal bertelur. Namun, penemuan ayam poncin sebagai petelur unggul ini setidaknya merupakan sebuah usaha untuk terus melahirkan strain-strain “jagoan”. Dengan demikian, usaha ‘mengandangkan’ ayam buras melalui pola peternakan intensif menjadi sebuah usaha yang menjanjikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *