Teknik Menetasan Telur Walet Pada Sarang Sriti

Teknik Menetasan Telur Walet Pada Sarang Sriti

Gedung sriti yang akan diubah menjadi gedung walet harus melalui proses yang disebut “putar telur”. Proses ini dilakukan bila populasi walet di daerah tersebut relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali atau tidak ada gua-gua alam yang dihuni walet hingga radius tertentu.

Bila gedung belum dihuni burung sriti memang program “putar telur” walet tidak mungkin terlaksana. Untuk memancing sriti masuk gedung, cara yang dapat dilakukan adalah dengan memancing walet masuk gedung. Burung sriti tidak dapat dikurung karena akan mati dalam waktu 5-6 hari.

Secara visual, membedakan induk jantan dan betina sulit dilaksanakan karena hampir tidak ada bedanya. Cara yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan alat yang disebut ditektor sibas.

Periode Sriti Bertelur

Musim bertelur pada walet dan sriti berbeda. Masa bertelur walet lebih dahulu dibanding sriti. Untuk itu, proses “putar telur” pun terkadang mengalami kesulitan.

Seperti halnya walet, sriti pun mengalami dua kali musim berkembang biak setahun. Dalam keadaan iklim normal, musim berkembang biak pada sriti adalah sebagai berikut.

  • Pada musim berkembang biak pertama, sriti mulai bertelur awal Maret dan mencapai puncak atau jumlah terbanyak akhir Maret. Pada akhir April, sriti yang bertelur mulai berkurang dan awal Mei hanya sedikit saja yang bertelur.
  • Pada musim berkembang biak kedua, sriti mulai bertelur awal Oktober dan mencapai puncaknya akhir Oktober. Jumlah sriti yang bertelur mulai berkurang awal November dan akhir November hanya sedikit saja yang bertelur.

Cara Penetasan pada Proses Putar Telur

Ada dua cara yang biasa dilakukan peternak atau pengusaha walet sebelum memutuskan untuk melakukan metode penetasan dengan proses “putar telur”, yaitu cara coba-coba dan cara persentase.

  1. Cara coba-coba

Cara ini dilakukan hanya sebagai percobaan untuk memastikan bahwa persyaratan “kaca susu sapi” sudah tepat. Oleh karena sifatnya sebagai percobaan maka jumlah telur yang diganti pun tidak terlalu banyak. Selain itu, pada cara ini tidak diperhatikan jumlah populasi sriti di dalam gedung. Bila cara coba-coba ini berhasil maka sudah diperoleh kejelasan akan keberhasilan pada program putar telur untuk musim berkembang biak periode selanjutnya.

  1. Cara persentase

Pada cara ini, keberhasilan program putar telur yang dihitung dalam persentase minimal, yaitu sekitar 12,5%. Disebut berhasil kalau walet yang dihasilkan dengan cara ini dapat kembali ke gedung setelah dilepas. Dengan mengambil contoh jumlah sarang sriti sebanyak 400 buah maka perhitungan pada cara ini adalah sebagai berikut.

  • Program “putar telur” ini cukup hanya 200 sarang saja (50%).
  • Jumlah telur walet yang akan ditetaskan ada 200 butir sehingga setiap sarang diisi sebutir telur.
  • Dari 200 butir telur walet diperkirakan hanya menetas 100 butir telur walet saja (50%).
  • Dari 100 butir telur walet yang menetas diperkirakan hanya 50 ekor walet muda yang hidup sehat dan dapat terbang (50%).
  • Dari 50 ekor yang hidup dan dapat terbang diperkirakan hanya 25 ekor (50%) saja yang kembali ke gedung asal, sedangkan lainnya hilang tidak kembali.
  • Dengan demikian, dari 200 butir telur walet hanya 25 ekor walet atau 12,5% yang dikatakan berhasil ditetaskan dengan program “putar telur”.

Tahapan Pelaksanaan Proses Putar Telur

Secara sederhana teknik “putar telur” adalah mengganti telur sriti dengan telur walet. Namun, beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses “putar telur” agar tingkat keberhasilan penetasan menjadi tinggi adalah sebagai berikut.

  1. Waktu pelaksanaan

Proses “putar telur” sebaiknya dilakukan pada menjelang musim hujan. Kualitas telur pada musim ini lebih bagus dan memiliki daya tetas yang tinggi karena intensitas pengeraman oleh induk sriti relatif rutin. Pada musim ini pun sumber makanan di alam tersedia berlimpah sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik anak walet.

Selain harus dilakukan pada menjelang musim hujan, proses “putar telur” ini pun sebaiknya dilakukan siang hari saat induk sriti sedang mencari makanan. Ini sangat penting dilakukan karena induk seriti tidak merasa terganggu dan tidak akan mengetahui ada perubahan telur pada sarangnya.

Peletakan telur walet

Meletakkan telur walet ke sarang harus memperhatikan bebe­rapa hal, yaitu kebersihan telur dan kondisi sarang.

  1. Kebersihan telur

Telur yang kotor dan berbau akan menurunkan daya tetas telur. Dalam peletakan telur ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk menjaga kebersihan telur dan tidak berbau. Bila tidak ada sarung tangan, dengan tangan kosong pun tidak jadi masalah asalkan tangan dibersihkan dahulu. Jangan menggunakan sendok sebab telur walet dapat terjatuh.

  1. Kondisi sarang

Selain kondisi telur harus bersih, juga perlu diperhatikan kondisi sarangnya. Sarang yang dipilih untuk peletakan telur walet harus relatif masih baru dan daya tempel pada sirip papannya sangat

kuat. Sarang yang sudah lama dan tidak kuat dikawatirkan akan jatuh terlepas dari sirip papan.

Sarang yang teratur susunan rumputnya pun sangat berpe-ngaruh pada keberhasilan penetasan. Rerumputan atau bahan sarang yang tidak tertata rapi dapat menjerat leher atau kaki piyik walet sehingga mengakibatkan kematian. Selain itu, sarang pun harus bebas dari kepinding atau kutu busuk. Tidak sedikit piyik walet mati akibat darahnya diisap oleh sekelompok kepinding.

  1. Jumlah telur

Jumlah telur harus diperhatikan agar proses “putar telur” ini berhasil. Biasanya seriti akan menelurkan dua butir telur. Namun, dua telur seriti tersebut tidak perlu diganti dengan dua telur walet, cukup dengan satu butir saja. Ada beberapa alasan mengganti dua butir telur seriti hanya diganti dengan satu butir telur walet.

  1. Fisik burung seriti lebih kecil dibanding walet sehingga panas tubuh seriti tidak mencukupi untuk mengerami dua butir telur walet. Panas tubuh pada saat pengeraman akan berpengaruh pada daya tetas telur walet.
  2. Memang kapasitas sarang seriti sebanyak dua butir telur seriti, tetapi bukan untuk dua butir telur walet. Ini disebabkan ukuran telur walet lebih besar 1,5—2 kali dibanding telur seri­ti. Bila dipaksakan, dikawatirkan ada telur yang jatuh sia-sia.
  3. Piyik walet yang sudah menetas harus mendapatkan kecukupan makanan agar tumbuh normal dan sehat. Bila induk seriti harus menyuapi dua piyik walet sekaligus, dikawatirkan akan berakibat jelek pada pertumbuhan dan perkembangan piyik walet.

Dengan hanya menggantikan sebutir telur walet maka akan diperoleh beberapa keuntungan,  di antaranya ialah risiko telur jatuh atau terbuang menjadi kecil, daya tetas telur walet tinggi, pertumbuhan dan perkembangan piyik walet terjamin, fisik burung seriti dalam mengerami dan membesarkan piyik walet tidak ter-forsir, serta kematian piyik walet karena terjatuh dari sarang dapat dicegah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *